Skip to content

WACANA EKONOMI SPIRITUAL DI TENGAH PERGULATAN MASHAB EKONOMI DAN IMPLEMENTASINYA DI BALI, oleh : I Made Sukarsa

24 February 2011

Sejak bapak ilmu ekonomi modern mencetuskan ide Ekonomi Klasik pada tahun 1776, ilmu ekonomi sebagai suatu mashab mengalami pasang surut. Adam Smith memulai dengan dalil invisble hand. Pada tahun itu beliau mengatakan bahwa kekuatan ekonomi harus terletak pada kekuatan pasar, tanpa ada campur tangan dari pihak ketiga. Ini merupakan fondasi dari munculnya wacana ekonomi liberalisme di dunia. Di pasar hanya dikenal pengusaha yang efisien. Pengusaha yang tidak efisien harus keluar pasar alias bangkrut. Kejam memang. Banyak pengikut yang mengkokohkan ajaran ini menjadi sistem yang harus dianut dunia ketika itu. Diantaranya Thomas Robert Malthus, Jean Baptise Say, David Ricardo, John Heunrich von Thunen, Nassau Williem Senior, dan John Stuart Mill. Diantara tokoh-tokoh ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok optimis dan kelompok fesimis terhadap kondisi ekonomi dunia ke depan. Tokoh kelompok optimis diantaranya adalah John Baptise Say, yang mengatakan bahwa ‘penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri’. Dia sangat optimis akan masa depan ekonomi dunia, bahwa keseimbangan ekonomi makro akan terjamin. Misalnya tidak akan terjadi gejolak kenaikan harga (inflasi), pengangguran, resesi dan beberapa jenis penyakit ekonomi lainnya. Masa berlakunya sistem ekonomi yang dinamakan mashab klasik ini cukup lama. Kira-kira satu setengah abad mashab klasik ini berlangsung. Selengkapnya Download Disini

SPIRITUAL ECONOMICS DALAM ERA GLOBALISASI EKONOMI, oleh : I Made Sukarsa

24 February 2011

Adam Smith memulai dengan sistem ekonomi klasik tahun 1776 yang ditandai dengan luncuran bukunya The Wealth of Nation (judul asli: An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations) sangat optimis akan keseimbangan ekonomi yang akan terjadi. Terutama J.B. Say yang mengatakan bahwa ‘penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri’. Banyak lagi para pengikut mereka yang sangat optimis. Sistem ini berkembang dan dipercaya cukup lama. Menurut ajaran ini, harga dan pasar jangan diatur-atur. Biarkan tangan-tangan yang tidak kelihatan (invisible hand) yang mengaturnya yaitu kekuatan permintaan dan penawaran di pasar. Pengusaha kuat (efisien) akan mendepak keluar pasar bagi usaha yang lemah (tidak efisien). Berlaku hukum ‘free exit and free entry’. Prinsip ‘homoeonomicus’ berlaku dimana mempunyai ciri: manusia itu rasional sehingga bekerja dengan efisien, mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan pengorbanan minimal. Pahan ini cukup lama bertahan. Sampai akhirnya kegagalan-kegagalan ekonomi mulai tampak, yang puncaknya pada awal 1930-an. Terjadi resesi dunia yang melumpuhkan semua sendi-sendi ekonomi. Harga-harga melambung tinggi, pengangguran yang cukup parah terjadi dimana-mana, daya beli rendah sehingga terjadi over produksi. Tesis Klasik tumbang, khususnya teori J.B. Say. (Mc Gee, 1992; Eric Schliesser, 2006; Buttler, E.,2007). Selengkapnya Download Disini

MERENCANAKAN UPACARA NGABEN DENGAN SISTEM ARISAN, oleh : I Made Sukarsa

24 February 2011

Dampak upacara di Bali demikian besar terutama pada kegiatan ekonomi. Banyak pengeluaran yang diperkirakan dalam setahun. Kegiatan upacara rutin, seperti purnama, kajeng kliwon, anggar kasih dll mencapai Rp.1,8 triliun. Kebutuhan akan busung mencapai 37.966,27 ton setahun dan bunga sebanyak 21.482,65 ton. Tenaga kerja untuk ngaben dengan tingkatan madya membutuhkan tenaga kerja sampai 699 man-days yang terdiri dari tenaga kerja laki sebanyak 387 man-days dan tenaga perempuan 312 mandays. Menurut pengamatan, masyarakat Bali yang beragama Hindu, dari segi keuangan cukup mengalami kesulitan dalam mengaturnya untuk mengikuti seluruh rangkaian ini. Apalagi ditambah dengan yadnya yang besar lainnya seperti ngaben, perkawinan dll. Seperti orang lari, nafasnya tersengal-sengal. Pengeluaran yang tidak direncanakan akan membuat banyak keluarga yang stress. Perlu perencanaan untuk mengatur pengeluaran yadnya ini, baik ditingkat keluarga, desa pakraman maupun di tingkat propinsi atau wilayah.  Selengkapnya Download Disini

GLOBALISASI, KEARIFAN LOKAL DAN EKONOMI BERKELANJUTAN, oleh : I Made Sukarsa

24 February 2011

Bali yang mempunyai luas 5.632,86 km2 atau 0,29 % dari luas Kepulauan Indonesia (Bali in Figures, 2003). Dengan luas yang relatif kecil tidak mempunyai banyak sumber daya alam untuk diekspolitasi. Tambang tidak ada, hutan juga tidak ada , apalagi minyak atau emas. Hanya kelebihan yang dimiliki Bali adalah mempunyai pemandangan alam yang masih indah dan manusia yang kreatif. Tingkat pendidikan diatas rata-rata nasional, tingkat kesehatan juga diatas rata-rata nasional. Kehidupan masyarakat yang diwarnai budaya yang masih kental dan menarik untuk dikunjungi. Sehingga strategi perekonomian Bali mengembangkan tiga sektor sebagai prioritas yaitu pertanian, pariwisata dan industri kecil. Selengkapnya Download Disini

PERKEMBANGAN EKONOMI KERAKYATAN DI INDONESIAI, oleh : I Made Sukarsa

23 February 2011

Ekonomi Kerakyatan di Indonesia banyak mempunyai istilah seperti sektor tradisional, sektor informal, ekonomi rakyat, usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Pada intinya adalah usaha ekonomi yang melibatkan rakyat banyak sebagai pelaku utama. Mulai dari jaman pemerintahan orde lama, orde baru, dan orde reformasi, pemerintah telah melakukan berbagai langkah-langkah dalam memajukan ekonomi kerakyatan ini, Kebijakan yang diambil adalah kebijakan sektor riil dan sektor moneter (perbankan).Selengkapnya Download disini

DAMPAK KEGIATAN UPACARA TERHADAP KEGIATAN EKONOMI MASYARAKAT BALI, Oleh I Made Sukarsa

23 February 2011

Sejak agama Hindu diakui eksistensinya oleh negara pada tahun 1950-an, dari segi struktur organisasi sering mengalami perubahan, demikian pula dari segi substansi tugas dan isi yang diemban. Perubahan menuju perbaikan merupakan satu langkah yang dinamakan modernisasi. Kondisi kegiatan beragama (Hindu) saat ini sudah saat berbeda dibandingkan dengan 50 tahun lalu apa lagi 100 tahun yang lalu. Cobalah simak beberapa data empiris tentang kegiatan pelaksanaan upacara di Bali yang direkam melalui beberapa penelitian selama 3 tahun terakhir.

Kegiatan upacara yang terdiri dari 5 jenis mulai dari dewa yadnya sampai pada butha yadnya merupakan sisi lain dari pelaksanaan agama disamping memahami tattwa dan melaksanakan etika kehidupan. Walaupun telah berulang kali diterangkan melalui media bahwa berbuat baik antar sesama tidak kalah pentingnya dengan yadnya-upacara namun upacara semakin marak dilakukan oleh umat. Di Bali umat melakukan banten saiban setiap hari masing-masing rumah tangga rata-rata 34 tandingan. Rentang jumlah tandingan dari 9 sampai 105 tandingan. Tandingan banten saiban yang paling sedikit ditemukan pada rumah tangga di perkotaan, sedangkan yang paling banyak (105) biasanya dilakukan pada pekarangan bersama (pekarangan wayah/tua).

Upacara ini rutin dilakukan sebanyak 108 kali selama setahun (dari wuku sinta ke watugunung kembali lagi sinta ke watugunung). Kalau dalam tahun 2003 KK di Bali yang beragama Hindu sebanyak 688.281 KK maka untuk pembuatan canangsari akan memerlukan bunga sebanyak 21.482,65 ton dan busung sebanyak 37.966,27 ton setahun. Kebutuhan ini hanya untuk kebutuhan mebanten rutin saja seperti kajeng kliwon, anggar kasih, purnama tilem, tumpek, saraswati, pagerwesi, galungan dll. Jika ditambah lagi untuk upacara yang lain seperti odalan di pura kahyangan tiga, kahyangan jagat, pura geginan, pura panti dll kebutuhan ini akan membengkak 2 atau bahkan tiga kali lipat. Selengkapnya silahkan Download di sini

FLOWER, CEREMONEY AND ECONOMY ACTIVITIES, Oleh : I Made Sukarsa

22 February 2011

Bali yang mempunyai luas 5636,66 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2008 sebanyak 3.516.000 jiwa dan lebih kurang 90 persen beragama Hindu. Tradisi dalam agama Hindu yang mempunyai hari raya rutin sebanyak 108 kali dalam setahun (420 hari). Disamping hari raya rutin, seperti Selasa Kliwon (di Bali disebut dengan Anggarkasih), Sabtu Kliwon (tumpek) dan hariraya Saraswati, Pagerwesi dll, ada juga hari raya tidak rutin seperti peringatan enam bulan tempat suci, upacara peresmian bangunan baru atau pernikahan, pengabenan dll. Untuk memenuhi perangkat upacaraupacara ini dperlukan berbagai jenis barang. Makin besar tipe upacara makin banyak jenis barang yang diperlukan. Sebagai ilustrasi, perangkat upacara yang paling sederahana yaitu canang, memerlukan enam jenis barang yaitu: bunga, daun kelapa muda, buah pisang, porosan, semat dan samsam.Selengkapnya Download disini